Ditahan 59 Hari Baru Dilepas, Polsek Tanjung Pura Paksa Warga Mengaku Mencuri


sumber : Pos Metro Medan

Jumat, 7 Mei 2010

“Dalam hal tersangka menyatakan bahwa dia akan mengajukan saksi yang menguntungkan bagi dirinya, penyidik wajib memanggil dan memeriksa saksi tersebut,”
Togar Lubis, Koord. K-SEMAR Sumut

Tj. Pura-Kinerja kepolisian kembali disoal. Di Polsek Tanjung Pura, seorang warga akhirnya dilepaskan setelah ditahan 59 hari. Parahnya, istri tersangka malah disuruh menandatangani surat permintaan penangguhan penahanan, seolah-olah hal itu adalah permintaan keluarga tersangka.

Kisah ini diawali penangkapan Syafril alias Aril (27) pada 23 Februari lalu. Warga Desa Lalang, Kec Tanjung Pura, Langkat ini, ditangkap dengan tuduhan mencuri sawit dan diadukan oleh Suyetno alias Yetno (40) warga Desa Batu Melenggang, Kec Hinai, Langkat.

Nah, saat diperiksa juru periksa (juper) di Polsek Tanjung Pura, Aril membantah tuduhan Yetno. Aril mengaku punya alibi. Dasar itu, dia memohon juper memintai keterangan Komaruddin alias Atan (51) warga Desa Bubun, Kec Tanjung Pura. Atan adalah pemilik lahan sekaligus pemberi kuasa pada Aril untuk mengelola, memanen dan juga menjualkan lahan kebun seluas 2 hektar yang terletak di Dusun Sentang, Desa Pantai Cermin, Tanjung Pura kepada orang lain.

Namun permintaan itu ditolak Bripka RH dan tetap menekan Aril untuk mengakui perbuatannya. Meski tak mengaku, Aril tetap ditahan. Tapi, sampai hari ke-53 penahanannya, berkas perkara tak juga kunjung dilengkapi hingga Kejari Stabat mengembalikannya. Jaksa memberi petunjuk kepada penyidik untuk memeriksa Atan, Camat Tanjung Pura, Kades Pantai Cermin dan Kadus P Sentang.

Karena waktu yang mendesak, diduga kuat Bripka RH tak bisa melengkapi berkas. Dasar itu pula, diduga untuk menghindarkan Aril bebas demi hukum akibat masa penahanan hampir habis, pada Jumat (23/4) sekitar pukul 14.30, Aril dikeluarkan dari LP Tanjung Pura. Hari itu, Aril telah ditahan polisi selama 59 hari.

Anehnya, sebelum Aril dikeluarkan, Bripka RH terlebih dahulu meminta Komariah (istri Aril) datang ke Polsek Tanjung Pura. Di sana, Komariah diminta menandatangani selembar surat yang berisi permohonan penangguhan penahanan dan seolah-olah permintaan itu merupakan dari keluarga Aril. “Saya atau keluarga tidak ada ngajukan permohonan penangguhan penahanan kepada polsek. Bahkan sebelumnya saya sudah bilang, biarlah saya mati di penjara karena saya merasa tidak melakukan pencurian seperti yang dituduhkan polisi kepada saya,” kata Aril pada POSMETRO MEDAN, Rabu (5/5) via seluler.

Ditambahkan Aril, saat diperiksa juper, dia merasa sangat tertekan sebab pertanyaan yang diajukan sangat menyudutkan. Aril diwajibakn menjawab pertanyaan sesuai keinginan Bripka RH. “Bahkan ketika saya menerangkan dan menyerahkan bukti-bukti kepemilikan dan surat kuasa yang diberikan kepada saya oleh Komaruddin dan ahli waris pemilik tanah tersebut, Bripka RS menolak dengan mengatakan bahwa surat-surat tersebut tidak berlaku,” ujar Aril.

Dasar itulah, Aril meminta bantuan kepada Kelompok Study dan Edukasi Masyarakat Marginal (K-SEMAR) Sumut. Ditempat terpisah, Koordinator K-SEMAR Sumut, Togar Lubis membenarkan tentang kasus yang menimpa Aril tersebut. “Tadi kita telah layangkan surat permohonan kepada Divisi Propam Polri agar segera memeriksa penyidik/penyidik pembantu Polsek Tanjung Pura terkait perkara yang disangkakan kepada Aril tersebut,” kata Togar.

Ditambahkan oleh aktivis ini, ada indikasi perkara tersebut sengaja dipaksakan oleh juper untuk naik ke penuntutan walau bukti-bukti tindak pidananya sangat lemah. Togar juga sangat menyesalkan sikap Bripka RS. “Menurut pengakuan Aril, dirinya tidak diberikan kesempatan oleh Bripka RS, SH untuk mengajukan saksi-saksi yang menguntungkan bagi dirinya (Saksi a decharge). Padahal itu jelas diatur pada pasal 116 Ayat (4) KUHAP yang menegaskan.

“Dalam hal tersangka menyatakan bahwa dia akan mengajukan saksi yang menguntungkan bagi dirinya, penyidik wajib memanggil dan memeriksa saksi tersebut,” beber Togar Lubis. Pentolan K-SEMAR Sumut ini juga mengaku bahwa tembusan laporan ke Divisi propam Polri telah dilayangkan ke Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, Kompolnas, Kabid Propam Poldasu dan Kanit P3D Polres Langkat.

Togar berharap agar persoalan ini diselesaikan oleh internal Polri namun tidak tertutup kemungkinan pihaknya akan mengajukan gugatan Prapradilan. Sementara itu, Kapolsek Tanjung Pura, AKP Marham SH yang dihubungi POSMETRO MEDAN, terkejut dan berkata, “Waduh, saya ngak tau pulak itu, siapa nama warga yang mengaku ditekan dan dilepaskan setelah 59 hari ditahan itu?” tanya AKP Marham. “Saya tanya kanit dulu ya,” ujarnya terdengar gugup sambil menutup telpon.(darwis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: