Pengakuan Bocah Disiksa Selama 4 Tahun oleh Ayahnya, “Mak, Pulanglah, Ega Rindu…”


sumber : Pos Metro Medan

Sabtu, 8 Mei 2010

Ega Priliya, Bocah malang ini butuh uluran tangan dermawan


Ega Priliya (8) yang menjadi korban kebrutalan sang ayah telah diungsikan ke rumah neneknya di Dusun IV, Desa Besilam, Kec Padang Tualang, Langkat atau sekitar 15 km dari Kota Tanjung Pura tempat tinggalnya semula bersama ayah dan kedua adiknya. Apa kabarnya?

Kemarin, usai Shalat Jumat sekitar pukul 14.00, cuaca berganti cerah setelah sebelumnya awan hitam mengelayut seakan mengisyarakatkan hendak hujan. Reporter koran ini pun kembali bergerak dari Kota Stabat menuju Jl Masjid, Gg Pesantren, Tanjung Pura, tempat tinggal Ega.

Tapi saat menyambangi rumah papan berderet tempat tinggal Ega dan kedua adiknya; Anggi (6) dan Rezza (2), rumah berdinding papan itu sepi. Pintu rumah yang sudah usang tertutup rapat.

“Orangnya nggak ada, sejak ada kasus sama anak itu ( Ega) rumah ini terkunci. Penghuninya nggak pernah pulang,” ujar seorang warga ramah ketika melihat reporter koran ini celingak celinguk di sekitaran rumah.

Dari warga ini juga diketahui kalau Ega dan dua adiknya kini dirawat sang nenek di Dusun IV, Desa Besilam. Kendaraan pun kembali dipacu ke sana. Dan, setelah melewati perkampungan Suluk Babusalam (Besilam-red), plus beberapa kali bertanya kepada warga, rumah yang dicari akhirnya ketemu.

Saat itu Ega dan kedua adiknya sedang bermain di dalam rumah pangung beratap nipah berdinding tepas, yang tak lain rumah neneknya. Meski memar di wajah, lengan, serta kakinya belum sembuh, tapi kondisi kesehatan Ega jauh lebih baik ketimbang dua hari lalu. Luka lembab dan gumpalan darah yang sebelumnya membeku di bola mata Ega, mulai memudar. Ega juga terlihat lebih ceria.

Melihat reporter koran ini mendatanginya, Ega spontan memberhentikan aktivitas mainnya. “Ini om yang semalam kan?” sapanya girang sambil memegang tangan reporter koran ini yang menganggukkan kepala. Tak berapa lama, dari dalam rumah terdengar panggilan yang mempersilahkan masuk.

Di ruang tamu sudah menunggu kakek dan nenek Ega. Keduanya adalah Abdul Rahman (62) dan istrinya Rahmah (58). Di ruangan itu tak terlihat perabot seperti lemari, kursi, apalagi televisi.

“Seperti inilah keadaan kami,” kata Abdul Rahman membuka cerita.

Pria yang telah dua tahun tidak dapat beraktifitas karena separuh anggota tubuhnya lumpuh, mengaku tidak menyangka cucunya menjadi korban penyiksaan sang ayah.

“Dulu saya terkena stroke dan jatuh, akhirnya seperti ini,” katanya.

“Kami makan dari pemberian warga sekitar, sebab saya tidak bisa mencari nafkah, begitu juga dengan istri saya ini, dia juga tidak bisa berjalan jauh-jauh, paling dari depan ke dapur, lebih dari itu sudah tidak bisa lagi. Istri saya juga lumpuh di sebagian anggota tubuhnya,” sambung Rahman. Kali ini dia menangis sebab katanya cobaan tak henti-henti merundung anggota keluarganya.

“Yang membuat saya begitu sedih, sudahlah keadaan kami seperti ini, ditambah lagi melihat cucu dibuat seperti itu sama bapaknya, apa nggak hancur kali hati ini. Padahal selama ini, setiap kali datang ke rumah ini, ayahnya, Edy Syahputra (42) kelihatan baik. Memang dua puluh hari belakangan ini dia nggak pernah datang lagi kemari,” tambah Rahman.

“Entah cemmana lagi nasib kami ini. Di rumah ini kami mengasuh dua orang cucu kami yang ditinggal emaknya ke Malaysia, sekarang datang 3 cucu lagi dalam keadaan macam begitu. Padahal makan kami pun dari belas kasihan warga dan tetangga,” timpal Nek Rahmah berurai air mata.

Kata Nek Rahma, sejak tiga bulan terakhir anaknya Sangkot atau ibu Ega kerap mengirimkan uang kepada suaminya sebesar Rp1 juta setiap bulan.

“Saya dengar tiap bulan mamaknya Ega mengirimi uang ke suaminya buat belanja tiga anaknya. Tapi uang itu sepertinya habis dipoya-poyakan suaminya sampai-sampai ketiga anak malang ini kelaparan dan disiksa seperti ini. Memang kejam kalilah dia itu. Tega dia membuat darah dagingnya sendiri seperti ini,” pungkasnya.

Sementara Ega yang sedari tadi diam di samping neneknya, mengaku setiap harinya diperlakukan kasar oleh sang ayah.

“Bapak suka mukul Ega dan adik-adik. Kami nggak dikasih ke luar rumah, kalau ke luar rumah, bapak mukulin pakek bambu. Kalau pulang malam bapak sering mabuk,” jelas Ega. Bocah 8 tahun ini memang tampak lugas bercerita tentang perilaku ayahnya.

“Kami dikasi makan sekali satu hari. Bapak masak sendiri, nasi yang dimasak itulah yang kami makan. Ega yang menjaga adik-adik, kalau adik mau makan, Ega yang ambilin nasinya, kalau adik berak, Ega yang cebokin, yang cuci baju juga Ega, pokoknya kami nggak boleh ke mana-mana,” sambung Ega yang bola matanya masih membiru.

“Semalam itu Ega ditinju sama bapak karena Ega keluar rumah. Bapak bilang nggak boleh ke luar rumah. Ega sama adik-adik harus tetap dikurung di rumah. Ega rindu sama mamak om, kapan mamak Ega pulang ya om, tolong telpon mamak Ega kenapa om. Ega sudah nggak mau tingal sama bapak lagi, bapak jahat. Ega mau sekolah lagi biar pintar, “ sambungnya panjang lebar.

Namun tak hanya Ega yang dipukuli ayahnya. “Mamak pun sering dipukul bapak, mamak sampek nangis. Kata mamak, dia ke Malaysia mau kerja cari duit untuk beli motor, nanti kami bisa raon-raon naik motor,” lirihnya.

Bahruddin (54) yang juga kakek Ega, mengaku kenal betul sosok Edy. “Dia itu preman pasar, tiap hari kerjanya memalak di Pasar Tanjung Pura. Hobynya main perempuan, judi dan minum-minuman keras. Yang saya herankan, kenapa polisi lama kali menangkapnya, seharusnya orang seperti itu jangan dibiarkan lagi berkeliaran,” harap Baharuddin.

Sementara Ketua KPAID Langkat Drs Ernis Safrin Aldin bersama pengurus lainya, kembali mendatangi Ega di rumah neneknya. Kedatangan KPAID untuk memberikan bantuan sembako ala kadarnya.

“Bantuan ini nilainya memang tidak seberapa dan jauh dari mencukupi, tapi paling tidak dapat meringankan beban keluarga ini buat sesaat, mudah-mudahan dapat dimanfaatkan, “ ujar Ernis saat menyerahkan bantaun dimaksud.

Disoal proses hukum terhadap tersangka yang hingga kini belum ditangkap Polsek Tanjung Pura, Ernis mengaku prihatin atas pernyataan polisi yang mengatakan belum bisa melakukan penangkapan karena belum cukup bukti.

“Saat kasus ini kita tanyakan ke Kapolsek Tanjung Pura AKP Marham SH melalui Kanitnya Ipda I Saragih SH, mereka mengatakan belum cukup bukti menangkap pelaku, padahal bukti perbuatan pelaku jelas terlihat. Entah bukti yang macamana lagi yang mau dicari polisi,” ujar Ernis seraya berharap Kapolres Langkat mengambil sikap. (***)

2 Tanggapan

  1. membaca artikel tersebut membuat saya bersyukur ketika waktu kanak2 tidak diperlakukan seperti itu.

  2. Benar-benar kejam itu sang ayah tapi kenapa polisi belum juga menangkapnya ya, butuh bukti kek gmn lagi tuh? hadeh parah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: