Tangguhkan Guru, Polsek Tj. Pura Dilapor ke Satgas Mafia Hukum


sumber : Pos Metro Medan

Senin, 10 Mei 2010
LANGKAT- “Kata Kanit, penanguhan menantu saya atas kasus pencurian baru bisa dilakukan kalau kami menyerahkan Rp20 juta.” Pernyataan ini disampaikan Darma Surya (50) kepada POSMETRO MEDAN, kemarin (9/5).

Atas dasar itu, Kelompok Studi dan Edukasi Masyarakat Marginal (K-SEMAR) Sumut mengadukan penyidik Polsek Tanjung Pura ke Satgas Pemberantasan Mafia Hukum di Jakarta. Laporan pengaduan itu tertuang dalam surat No. 89/K-SEMAR/V/2010 tertanggal 6 Mei 2010.

Pengaduan ini bermula dari adanya pengaduan Ir Jufri (50) warga Jl. Pemuda, Gg. Langgar, Kel. Pekan Tanjung Pura, Kec. Tanjung Pura, Kab. Langkat, yang kehilangan 4 batang kayu/broti miliknya kepada Polsek Tanjung Pura. Laporannya tertuang dalam No. Pol. : LP/75/IV/2010/Lkt Pura, tertanggal 17 April 2010 lalu.

Oleh petugas, laporan itu ditindaklanjuti dan seminggu kemudian, Senin (26/4), berhasil menangkap seorang tersangka bernama Edi Sahrizal Als Edi Mor (47) warga Jl. Pemuda, Gg. Mangga, Kel. Pekan Tanjung Pura. Pada juru periksa, pria berstatus PNS pada salah satu sekolah di Tanjung Pura ‘nyanyi’.

Keesokkannya, 2 tersangka lainnya yaitu M Sulaiman Als Isu (28) dan Irwan Arfian als Iwan (30), keduanya warga Kel. Pekan Tanjung Pura— disebut rekan Edi Mor—juga ditangkap. Guna pemeriksaan lebih lanjut, ketiganya pun menginap di sel Mapolsek Tanjung Pura.

Pada Rabu (28/4), Ir Jufri yang juga merupakan Kepling VII Jl. Pemuda, Kel. Tanjung Pura berdamai dengan ketiga tersangka. Perdamaian kedua belah pihak diketahui dan ditandatangani oleh Lurah Pekan Tanjung Pura, Irwan SE.

Senin (3/5) lalu, penahanan Edi Mor ditangguhkan atas permohonan yang diajukan oleh istrinya, Ratna (45). Sebagai jaminan, Ratna dikabarkan menyerahkan uang sebesar Rp20 juta kepada penyidik Polsek Tanjung Pura.

Malam di hari penangguhan Edi Mor, Darma Surya, orang tua Irwan juga memohon penangguhan. Sekira pukul 19.30, Darma menemui Kanit Reskrim, Iptu IS sembari mempertanyakan soal penangguhan Edi Mor.

Pada Darma, Iptu IS menyatakan bahwa penangguhan berdasarkan pertimbangan Edi Mor berstatus PNS, sehingga tidak akan melarikan diri. Tidak hanya itu, tersangka juga sanggup menyerahkan jaminan sebesar Rp20 juta.

Karenanya, Perwira itu memintanya agar menyerahkan jumlah serupa sebagai uang jaminan untuk penangguhan Irwan. “Kata Kanit, penanguhan Irwan bisa dilakukan kalau kami menyerahkan Rp20 juta,” ungkap Darma.

“Mendengar angka 20 juta aja saya udah tak bisa ngomong, Bang. Pikiran saya, di mana nyari uang sebanyak itu,” timpalnya. Hal inilah yang dinilai oleh K-SEMAR Sumut sebagai praktek mafia hukum, sekaligus dasar membuat laporan ke Satgas Pemberantasan Mafia Hukum.

K-SEMAR menduga telah terjadi praktek-praktek mafia hukum dan pelanggaran syarat-syarat penangguhan penahanan, sebagaimana yang dimaksudkan pada pasal 31 ayat (1) KUHAP dan tata cara pelaksanaan jaminan penangguhan penahanan yang telah diatur pada Bab X, Pasal 35 dan Pasal 36 PP. No. 27 tahun 1983, serta rumusan dalam angka 8 huruf a Lampiran Keputusan Kehakiman No. M.14-PW.07.03/1983, yang antara lain menjelaskan bahwa uang jaminan disimpan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri, Penyetoran uang jaminan dilakukan sendiri oleh pemohon atau penasehat hukumnya atau keluarganya.

K-SEMAR juga menilai bahwa penangguhan penahanan 1 orang tersangka dari 3 orang tersangka dalam satu perkara pidana yang sama adalah perbuatan diskriminatif, sebab jelas akan mencederai rasa keadilan masyarakat khususnya kedua tersangka lainnya dan keluarganya, sebab hal tersebut merupakan pengingkaran terhadap konsep Persamaan di Hadapan Hukum atau Equality Before The Law.

Sementara itu, Kapolsek Tanjung Pura, AKP Marham SH membantah soal jaminan sebesar Rp20 juta tersebut. Menurutnya, ia sama sekali tidak ada menerima uang dimaksud. “Ngak betul itu kalau ada penangguhan penahanan dengan jaminan uang Rp20 juta. Demi Allah, ngak ada saya seperti itu. Hanya saja pertimbangan kita menangguhkan tersangka karena yang bersangkutan seorang guru dan tenaganya banyak diperlukan, kalau perkaranya tetap lanjut kok,” terang Marham.

Disoal kenapa dua tersangka lainya tidak ditangguhkan padahal dalam perkara yang sama dengan Edi Mor, Marham berkilah dirinya banyak mendapat telpon dari warga yang mendukung penahanan keduanya.

“Saya ditelpon banyak warga. Mereka sangat berterima kasih karena kedua pelaku itu tidak ditanguhkan. Sebab kalau keduanya ditangguhkan, banyak barang milik warga yang hilang,” ketus Marham seraya menegaskan pihaknya tidak ada menerima Rp20 juta dari Edi Mor.

Disinggung permintaan Iptu IS, Marham sedikit gugup dan menuding hal itu hanya pintar-pintaran IS. “Ngak betul itu, Bang. Mungkin itu hanya pintar-pintar kanit aja. Yang pasti saya tidak ada terima uang Rp20 juta dari tersangka yang ditanguhkan,” tegasnya.

Saat POSMETRO MEDAN menanyakan soal tidak ditahannya penadah barang curian tersebut, Marham kembali bingung dan berkilah kalau penadahnya orang susah. “Orangnya susah kali Bang. Kasian pulak kita melihatnya,” tandasnya. (Darwis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: