Zainal Abidin Nst Korban Salah Tangkap Polisi,Luka Tembak Dijahit Tanpa Bius, Poldasu Digugat Rp500 Juta


sumber : Pos Metro Medan

Rabu, 16 Juni 2010
Setelah polisi menembak kaki Zainal Nasution, dengan kondisi berlumur darah, juru parkir ini diseret masuk ke dalam mobil lalu dibawa ke Rumah Sakit Brimob di Jalan Wahid Hasyim Medan. Tanpa dibius, luka tembak itu dijahit. Tak terbayang betapa sakitnya.

“Sudahlah luka tembakan kaki suamiku tidak dibius, penderitaan itu kembali bertambah. Biaya untuk mengobati luka tembak itu pun kami yang tanggung Rp3 juta lebih. Kami pun membayarnya dengan cara mencicil,” timpal Lisiani, istri Zainal saat ditemui POSMETRO MEDAN di Kantor LBH Medan.

Setelah luka tembak dijahit, Zainal pun dijebloskan ke balik jeruji besi blok B, Rutan Klas I Tanjung Gusta Medan. Di sana Zainal mendekam selama 1 tahun 10 hari bersama 40 tahanan lainnya.

“Di penjara saya menghabiskan hari-hari dengan sholat. Aku hanya bisa merenungi nasib karena seumur-umur aku tak pernah berurusan dengan polisi, apalagi melakukan perbuatan kejam seperti yang dituduhkan. Aku hanya menunggu mukjizat agar Tuhan membantuku,” sambungnya.

Dugaan Rekayasa

Rekayasa diduga kuat dilakukan pihak kepolisian agar kasus pembunuhan Kesuma Wijaya Komisaris PT Sewangi Sejati Luhur 26 Mei 2009 selesai. Hal itu dikatakan Wakil Direktur LBH Medan, Muslim Muis.

“Diduga penyidik merekayasa, menciptakan sendiri tersangka. Pasalnya, bukti-bukti di lapangan sesuai hasil invetigasi LBH Medan, yang seharusnya dijadikan barang bukti di persidangan, sama sekali tidak dicantumkan dalam berkas pemeriksaan,” katanya.

Muslim mencontohkan, sidik jari dengan bercak darah di dinding rumah korban, dan bercak darah di jok mobil milik korban, tidak diambil. Hal lainnya, sambung Muslim, Martil yang digunakan untuk memukul korban, serta kayu yang didapat di lokasi kejadian juga tidak menjadi barang bukti di persidangan.

“Saya melihat ada dugaan upaya pengaburan pelaku sebenarnya. Dan, atas perkara ini kita menduga dilakukan oleh aktor yang sebenarnya,” ujar Muslim pada POSMETRO MEDAN kala itu.

Diungkapkannya lagi, terkait celana panjang yang dijadikan barang bukti, yang dituduh merupakan milik terdakwa, tidak cocok. Pasalnya, pada persidangan, celana tersebut tidak dapat dikenakan Zainal karena kesempitan.

“Banyak lagi dugaan rekayasa yang kita yakini. Seperti telepon rumah yang diputus dan senter yang ditemukan di lokasi kejadian tidak juga dijadikan sebagai barang bukti pendukung untuk menjerat terdakwa dalam kasus itu. Padahal, selama dalam persidangan, kita sama sekali tidak menemukan adanya motif Zainal untuk berbuat yang dituduhkan padanya,” tegasnya.

Gugat Poldasu Rp500 Juta

Setelah dibebaskan dari segala tuntutan, Zainal Nasution sedang menyiapkan gugatan atas penahanannya selama 1 tahun lebih di penjara plus luka tembak yang dideritanya.

“Atas tindakan Polsekta Medan Kota yang merupakan jajaran dari Mapoldasu, telah merugikan klien kami sehingga ditahan tanpa memiliki bukti kuat. Maka, Zainal akan menggugat ganti rugi,” kata Muslim Muis SH.

Dijelaskan Muslim, jumlah gugatan itu sebesar Rp500 juta. “Jika dihitung secara in materil, maka kerugian yang dialami Zainal tidak terhitung jumlahnya, karena ini menyangkut harga diri, martabat, dan moral,” ungkap Muslim lagi.

Ditambah Muslim, mengacu pada PP No 27 tentang rehabilitasi dan ganti rugi, paling besar yang dibisa dituntut Zainal yakni Rp5 juta dan paling rendah Rp3 Juta. Sementara, biaya perobatan atas penyiksaan dan penganiayaan berupa penembakkan sebanyak tiga kali pada Zainal mencapai puluhan juta.

“Itu menyangkut penyiksaan dan penganiayaan saja. Dari sisi in materil dan materil. Ganti rugi atas perbuatan polisi sangatlah besar,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Divisi Advokasi Hukum dan HAM LBH Medan, Yurika Ningsih SH, mengatakan, penahanan selama setahun lebih dialami oleh Zainal adalah awal kecerobohan dan murni kesalahan dari pihak kepolisian.

“Ini jelas pelanggaran HAM yang dilakukan aparat hukum yang telah merampas kemerdekaan Zainal,” kata Yurika.

Maka sanksi atas tindakan itu adalah ganti rugi kepada Zainal, baik secara materil, ini materil, rehabilitasi. “Selain minta ganti rugi,

kami telah merancang gugatan terhadap Poldasu ke PN Medan, terkait rekayasa pelaku pembunuhan,” sebut Yurika yang selalu setia mendampingi Zainal saat menjalani proses persidangan di PN Medan hingga akhirnya divonis bebas.

Sementara Zainal ditanya apakah akan kembali menjadi juru parkir mengaku belum memikirkan hal tersebut. “Belum tahu, untuk saat ini aku menenangkan diri dulu. Tergantung kondisi nantilah apa yang harus aku lakukan untuk masa depan keluarga,” jawabnya. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: