Janda Miskin, Sakit dan Dipungli, Penderita Diabetes Hanya Bisa Pasrah


Boirah (49), janda miskin penderita Diabetes ini hanya bisa pasrah bergelut dengan penyakit yang dideritanya

Langkat

Boirah (49) warga Dusun V Desa Lalang, Kecamatan Tanjung Pura ini hanya bisa pasrah menghadapi penyakit Diabetes yang telah dideritanya hampir selama 1 tahun. Faktor kemiskinan menyebabkan tubuh janda beranak 2 ini kian hari semakin kurus mencapai 35 Kg.

Kepada wartawan dan Koordinator Kelompok Study dan Edukasi Masyarakat Marginal (K-SEMAR) Sumut, Togar Lubis yang menyambanginya , Sabtu (19/6), Boirah menuturkan bahwa dirinya hanya berobat ke Puskesmas jika ayahnya Soimin (80) dan Ibunya Sainah (75) memiliki uang. Malangnya, kedua orangtuanya yang sudah renta tersebut pekerjaannya hanya membuat sapu lidi dengan penghasilan rata-rata perharinya antara 6 s/d 8 ribu perhari.

“Berobat ke Puskesmas bayar juga Rp. 5 ribu bang, kata petugas disana untuk uang kartu, padahal untuk makan aja kami susah. Saya sedih kali melihat orang tua saya yang sudah tua ini, bisa ngasi makan saya aja saya udah bersyukur”, kata Boirah sambil memegang pundak Ibunya.

Boirah mengaku bahwa keluarganya tidak memiliki kartu Jamkesmas dan sekali waktu dia pernah minta tolong kepada Kepala Dusun V, Desa Lalang, Rakio, agar dibuatkan Surat Keterangan Miskin, namun sampai saat ini surat keterangan miskin tersebut tidak pernah diterimanya. “Mungkin karena saya tidak kasi duit maka tidak dibuat Kepala Dusun ya bang” ujar Boirah lagi.

Pengakuan Boirah yang mengaku dipungut biaya kartu oleh petugas Puskesmas Pantai Cermin Tanjung Pura ini membuat Koordinator K-SEMAR Sumut ini berang. Togar menilai bahwa sampai saat ini hak-hak kesehatan rakyat masih tetap terkesan diabaikan oleh Pemkab Langkat khususnya Dinas Kesehatan, walau anggaran APBD yang dialokasikan di Dinas ini sangat besar.

“Pungutan Rp. 5 ribu itu adalah pungli dan hal tersebut telah terjadi sejak Bupati Langkat dipimpin Syamsul Arifin dan ternyata dibawah kepemimpinan Ngogesa Sitepu praktek pungli seperti ini masih tetap berjalan. Bahkan informasi yang kita peroleh, dari mulai makanan bayi, obat-obatan, alat kontrasepsi Keluarga Berencana sampai dengan program imunisasi semuanya dibisniskan oleh para petugas Puskesmas” beber Togar Lubis dengan nada geram.

Togar Lubis berjanji akan menyampaikan persoalan yang dihadapi warga tentang hak-hak kesehatan rakyat ini kepada Pemkab Langkat termasuk menyurati Presiden dan Menteri Kesehatan di Jakarta. ( )

3 Tanggapan

  1. Ini ada ramuan obat yg mungkin dpt mengurangi penyakit gula ibu dan itupun kalau serasi, yaitu : ambil akar kelapa sebanyak 7 buah dan akar tsb belum sampai menyentuh tanah, kemudian dibersihkan. Setelah itu direbus dan air rebusan dijadikan minuman sehari-hari minimal sampai 3 bulan berturut-turut. Ada rasa haus, minumlah air rebusannya. Bila rasanya telah hambar, lalu ganti lagi dengan akar yg baru dan direbus. dan demikian seterusnya..Mudah2an bermanfaat dan selamat mencoba. Semoga lekas sembuh

  2. itu laporin aja tuh pegawai puskesmas kayak begitu wong edan tuh orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: