Derita Pembuat Sapu Dipungli Puskesmas, ’Kemiskinan Menjerat Leherku’


sumber : Pos Metro Medan

Boirah, penderita diabetes.


LANGKAT-Tak ada yang manusia yang ingin hidup miskin. Namun jika Tuhan berkehendak, tak ada yang bisa menghalanginya. Begitu juga denganku. Bukannya aku menyesali kemiskinan ini, tapi orang-orang yang memanfaatkan kemiskinan untuk memperkaya diri sendiri, itulah yang kusedihkan.

Namaku Boirah (49), menetap di Dusun V Desa Lalang, Kecamatan Tanjung Pura. Aku merupakan janda dan memiliki 2 anak. Penghasilan yang kami peroleh pas-pasan, hanya cukup untuk makan saja. Yah… berapalah pendapatan yang diperoleh dari hasil membuat sapu lidi, hanya Rp6ribu hingga Rp8 ribu yang bisa didapat setiap hari. Ayahku Soimin (80) dan ibuku Sainah (75), sudah menekuni pekerjaan ini selama bertahun-tahun. Untuk sayur mayur, kami masih bisa mengambil di ladang.

Setahun lalu aku menderita diabetes. Kata orang berobat di puskesmas gratis alias tak dipungut bayaran. Aku pun memberanikan diri berobat ke Puskesmas Pantai Cermin Tanjung Pura. Namun petugas di sana minta pembayaran uang kartu sebesar Rp5 ribu. Karena tak punya uang, aku pun kembali pulang ke rumah.

Mungkin orangtuaku merasakan sakitku, mereka pun memberi uang agar aku berobat ke puskesmas. Sejujurnya aku sedih melihat ayah ibuku yang sudah tua itu, namun masih menanggung beban diriku dan anak-anakku. Seharusnya akulah yang memberi pada mereka, bukan lagi orangtuaku. Tapi keadaanku tak memungkinkan aku bekerja terlalu berat.

Aku pun berobat ke puskesmas dan membayar kartu berobat dengan harga Rp5 ribu. Tapi penyakit ini tak kunjung sembuh. Untuk berobat lagi, aku kasihan dengan orangtuaku. Sakit ini memang sudah tak sanggup lagi kutahan, tapi apa yang bisa diperbuat, kami sama sekali tak punya uang. Pernah aku meminta pada Kepala Dusun V, Rakio agar keluarga kami diberi surat miskin. Tapi hingga sekarang surat itu tak pernah diberikan. Mungkin karena aku tak memberinya uang, makanya surat miskin itu tak kunjung diberinya. Padahal, ada keluarga di tempat kami yang hidupnya lebih layak, malah dapat surat miskin. Entahlah, dunia ini sudah terbalik. Yang kaya diperhatikan, yang miskin makin ditindas.

Kemiskinan ini sangat menjerat leher kami, orang-orang yang dikucilkan dan sering dijadikan bulan-bulanan. Aku hanya berharap, petugas yang dipercaya pemerintah untuk menangani orang miskin agar tidak mencari keuntungan dari derita kami. Sedikit saja kami menerima bantuan, sangat besar manfaatnya bagi kami.

Kisah ini kuceritakan pada wartawan dan Koordinator Kelompok Study dan Edukasi Masyarakat Marginal (K-SEMAR) Sumut, Togar Lubis yang datang menyambangi kediaman kami. Togar Lubis menyatakan, pungutan pihak puskesmas adalah pungli. Dia menjanjikan akan menyampaikan persoalan yang dihadapi warga tentang hak-hak kesehatan rakyat ini kepada Pemkab Langkat, termasuk menyurati Presiden dan Menteri Kesehatan di Jakarta.

Semoga apa yang dikatakan Togar Lubis benar-benar terwujud. Aku hanya berharap agar persoalan orang miskin benar-benar diperhatikan. (curhat Boirah pada Darwis)

2 Tanggapan

  1. lagi-lagi kejadian yang mengharukan terdengar,lagi-lagi simiskin jadi korban,sadar dong wahai para pemimpin jangan berbuat dzolim

  2. ‘rakyat tidak sakit’ hanya sekedar slogan dalam budaya spanduk….dan pungli tak mungkin hilang dari budaya korupsi…karena orang munafik semakin banyak…lain yang diucapkan, lain yang dilakukan…kSemar kiranya bisa konsisten memperjuangkan hak rakyat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: