Potret Buram Peringatan HAN di Langkat, Dari Gizi Buruk, Penganiayaan Hingga 25 Anak Mendekam di Bui


sumber : Pos Metro Medan

Lisa penderita gizi buruk dipangku ibunya. (Darwis/PM)

LANGKAT-Terlalu banyak anak-anak menderita di Kabupaten Langkat. Mulai dari terserang gizi buruk, mengidap penyakit mematikan, mengalami penganiayaan atau siksaan dari orang tua, hingga meringkuk di sel hanya gara-gara persoalan sepele. Bukan bermaksud mendiskreditkan Pemkab Langkat, tapi dari data POSMETRO MEDAN, kondisi itu tak terlepas dari peran serta pemerintah setempat dan kurangnya kepedulian dinas yang membidangi.

Air mata Sadakata Br Sitepu (33), warga perumahan Wisata Bukit Lawang, Kec. Bahorok, Langkat ini tak hentinya mengalir tiap kali menatap wajah tak berdosa putrinya yang masih berusia 10 bulan. Yang membuat hati ibu ini begitu hancur berkecai setelah pihak RSU Haji Adam Malik-Medan mendiagnosa putrinya Lisa Ramdani, mengidap penyakit gagal hati. “Saya hanya bisa pasrah ketika pihak rumah sakit memvonis anak saya mengidap penyakit gagal hati,” ungkap Sadakata ketika ditemui kemarin.

Cerita Sadakata, penyakit itu ia ketahui saat Lisa berusia 3 bulan, saat mereka masih menetap Jambi. Kala itu, Lisa mengalami pembesaran ukuran perut, dan saat dibawa ke rumah sakit setempat, tim medis di sana mengaku tak sanggup menolong Lisa, alasannya memang klasik, karena keterbatasan alat medis. Atas dasar itu, pihak rumah sakit menganjurkan Lisa dibawa ke RSU Palembang, Padang dan Medan, yang katanya telah memiliki alat madis yang memadai. Karena keluarga Sadakata berdomisili di Bahorok, mereka pun mencoba mengobati Lisa ke puskesmas setempat.

Oleh pihak Puskesmas Bahorok, mereka dirujuk ke RSU Adam Malik. Dua hari dirawat di rumah sakit milik Pemprovsu itu, Sadakata malah menelan pil pahit karena putri tercintanya divonis mengalami gagal hati. “ Kata dokter di rumah sakit itu, Lisa percuma saja dioperasi, karena itu hanya memperpendek usianya,” kata Sadakata. Kondisi anak bungsu dari dua bersaudara ini, dan vonis umur dokter yang membuat Sadakata makin sedih, hingga tak sanggup sedetikpun jauh dari anaknya. “Biar gimana pun, saya akan tetap mendampingi Lisa, sampai dia sembuh, saya sangat sayang sama dia, karena dari lahir dia sudah menderita seperti ini,” ucap Sadakata dengan meta berkaca-kaca sembari menciumi putrinya.

Dia mengaku, saat ini Lisa mengalami pembesaran perut mencapai 63 cm dan berat badan 95 kg. Kondisi ini dinilai tidak sesuai dengan usia anak berusia 10 bulan. Untuk itu, Sadakata berharap, ada pihak yang bersedia membantu biaya pengobatan anaknya, karena sampai saat ini, Pemkab Langkat masih terkesan tutup mata dengan kondisi Lisa. Camat Bahorok Sekula Singarimbun ketika dihubungi wartawan mengaku tidak tahu dan tidak mau tahu dengan masalah ini, karena saat ini anaknya juga sedang sakit. “Saya nggak tau, jangan hubungi saya, karena anak saya juga sedang sakit,” ketus Sakula.

Tak jauh beda dengan apa yang dialami keluarga Sadakata. Seorang balita yang diberi nama Kamalia, juga harus berjuang mempertahankan hidupnya melawan maut. Sejak usia tiga bulan, penyakit mematikan menyerangnya. Kamalia mengidap penyakit kelainan syaraf. Bersama ibu dan ayahnya Levitria Ningsih (26) dan Hery Syahputra (30), Kamalia tinggal di Lingkungan X Purwosari, Kel. Kwala Bingei, Kec. Stabat, Langkat. Kondisi fisiknya terlihat lemas, tatapan matanya kosong, bahkan untuk mengangkat kepalanya saja, Kamalia tak berdaya. Jangankan untuk melihat tawa candanya, melihat senyum manisnya pun sangat mustahil. Semua ini disinyalir akibat step yang dideritanya sejak tiga bulan sejak lahir ke dunia. Kamilia tak bisa berbuat apa-apa, kecuali menanggis ketika ingin meminta sesuatu dari ibunya. Ironisnya, ketika cuaca panas Kamalia kerap mengalami kejang-kejang.

Penyakit yang diderita Kamalia berawal tiga bulan kelahirannya. Kala itu, Kamalia mengalami panas tinggi dan kejang. Waktu kejang itu, tubuh Kamalia seperti penari balet, kepala dan kakinya menyatu ke belakang tubuhnya. Sejak itu kondisi tubuh Kamalia terus menurun hingga seperti saat ini. Di usianya sekarang, Kamalia tak bisa berbicara, menggerakan kepalanya dan seluruh organ tubuhnya. Dibawa ke rumah sakit di Binjai, oleh dokter Kamalia dibilang mengidap penyakit epilepsy.

Meski keadaan Kamalia kian memprihatinkan, tapi Ningsih mengaku, tak pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat. Padahal, tempat tinggal mereka, hanya berjarak 1 Km dari pusat kantor Pemkab Langkat.” Sampai sekarang belum ada perhatian dari pemerintah, mungkin mereka berpendapat, kami orang berada, karena tinggal di kota,” sindir Ningsih. Di Dusun Hulu Tenggah, Desa Secanggang, Langkat ada juga bocah berusia 13 tahun tak bisa melakukan aktivitas apapun karena tubuhnya lumpuh. Setiap bergerak maka simalang ini akan digotong oleh kakak atau ibunya. Kondisi Nuraida (13) nama anak itu, kian menyedihkan, ditambah lagi kehidupan orang tuanya yang miskin. Ibu Nuraida seorang penjual kue di sekolah SMU Negeri I Secanggang. Sementara ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan yang tidak menetap.

Menurut Anisah, awalnya bungsu dari empat bersaudara itu hanya demam panas. Oleh Anisah, Nuraida diberikan obat dari mantri desa. Dan menjelang malamnya panas Nuraida kian tinggi hingga anak ini menjertit sekuat-kuatnya lalu jatuh pingsan. Sehari semalam Nuraida tak sadarkan diri. Untuk membantu pengobatanya, keluarga telahpun memangil bidan desa dan orang pintar. Hasilnya, Nuraida sadar dari pingsannya. Hanya saja, Nuraida sudah tidak dapat lagi menggerakkan anggota tubuhnya. Sejak jatuh sakit Nuraida sudah tidak mau makan nasi lagi. Ia hanya makan kentang, bubur, roti dan susu. Bahkan hingga kini Nuraida tak pernah minum air putih.

Meski rumah Anisah memang berdekatan dengan kapuskesmas, tapi anaknya tetap tak mendapat perhatian dari dokter setempat. Kalau Nuraida mengalami lumpuh, beda lagi dengan Reval Raihansyah (1 tahun). Putra dari M. Mardiansyah (29) dan Amah (28), warga Dusun VI Kacangan, Desa Karang Gading, Kec. Secanggang, Kab. Langkat. Dua hari lahir dei lahir di RSU Djoelham Binjai, oleh dokter Reval pun dirujuk ke RSU Adam Malik-Medan tuk operasi. Menurut dokter yang merujuknya, Reval terlahir tanpa lubang anus alias tempat membuang air besar. Oleh sebab itulah, guna mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan, Reval segera dilarikan ke RS Adam Malik-Medan guna menjalani operasi pembuatan lubang anus.

Operasi yang dilakukan waktu itu berjalan lancar tanpa kendala apapun. Reval yang masih berusia beberapa hari itu telah punya lubang anus buatan yang dikorek dibagian lambung sebelah kirinya. Dengan sebuah kantong plastik dibalut plaster, kantong itu melekat terus diperutnya. Sedihnya Reval tak hanya terlahir tanpa anus. Ia juga menderita jantung berlubang, kelenjar gondok serta kelainan kelamin. Kalau Reval lahir tanpa anus dan mengalami jantung berlubang, beda dengan Zepriadi alias Zepri (13) warga Dusun IV, Desa Jaring Alus, Kec. Secanggang, Kab. Langkat. Anak ke dua dari empat bersaudara pasangan Anisah (30) dan Zulkifli(34) ini, sejak tujuh tahun terahir ini mengidap penyakit kekurangan giji atau giji buruk. Zefri tinggal di Desa jarring Halus, Kec. Secanggang, sebuah pulau kecil di kecamatan tersebut. Zepri sempat tinggal bersama ayahnya Zulkifli di Desa Selotong, Kec. Secanggang.

Kondisi menyedihkan juga ditemukan di Jalan Masjid, Gang Pesantren, Kec. Tanjung Pura, Kab. Langkat. Kalau tadi anak-anak ditemukan dengan beragam penyakit, tapi ini seorang anak disiksa orang tuanya hingga babak belur. Ega Priliya Syahputri (8) nama gadis kecil yang dibabak belurkan ayah kandungnya itu. Ega yang ditingal ibunya yang jadi TKW di Malaysia ini sempat bersekolah, tapi karena himpitan ekonomi, Ega berhenti di di bangku kelas I SDN 06 Tanjung Pura. Selama beberapa tahun Ega mengalami penyiksaan fisik dari sang ayah. Saat ini ayah Ega berstatus burunon Polsek Tanjung Pura.

Tak hanya masalah penyakit dan kesehatan anak saja yang buruk di Langkat. Penanganan terhadap anak yang bersentuhan dengan hukum juga sangat disayangkan. Contoh kasus, seperti ditahannya tiga anak gembala oleh kejaksaan terkait kasus narkoba meski ahirnya mereka dilepas melalui sidang di PN Stabat. Gusti Randa (14), Dani (15) dan Sas Dwipa alias Sas (17) adalah nama ketiga warga Lingkungan Maju Trisno, Kel. Batang Serangan, Kec. Batang Serangan, Kab. Langkat itu. Mereka ditangkap saat mengembala ternaknya. Oleh polisi ketiga anak ini hanya satu hari ditahan, selanjutnya di kejaksaan mereka ditahan selama dua bulan.

Perjuangan KPAID Langkat membebaskan anak-anak ini dari kurungan membuahkan hasil setelah majelis hakim menyatakan mereka bebas dalam vonisnya. Menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Langkat, Drs Ernis Safrin Aldin. Hingga Rabu (21/7), ada 25 anak yang menjalani hukuman dan ditahan dalam penjara dengan berbagai kasus. “ Dari data yang kita miliki, setidaknya ada 25 anak yang ditahan di penjara dengan tingkat kesalahan yang berbeda, ini jelas kita sayangkan. Apalagi penyebabnya tak lain karena penegak hukum kurang memahami masalah hukum anak, mereka selalu memproses suatu kasus anak dengan KUHPidana yang membutuhkan saksi, jadi ketika polisi sibuk mencari saksi, pelakunya pun kabur. Di sini polisi juga bisa mentelaah perkara dan melihat kasusnya sehingga si anak yang menjadi pelaku tidak ditahan dengan melakukan mediasi ke pihak korban, “ ujar Ernis.

Tambahnya lagi, dalam menjalankan tugasnya polisi menerapkan Peraturan Kapolri No.8 Ta 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standart Hak Asasi Manusia Dalam Penyelengaraan Tugas Kepolisian, menyikapi masih lemahnya polisi menangani perkara anak. Dalam peringatan hari anak, Ny Ngogesa Sitepu merangkai beberapa kegiatan seperti memberikan bingkisan tas dan alat-alat sekolah pada anak-anak di sekolah dasar luar biasa (SDLB) Stabat, serta siswa-siswi SD yang tidak mampu di sejumlah Kecamatan di Kabupaten Langkat merupakan kegiatan yang positif dan termasuk hal yang baru dalam memperingati Hari Anak Nasional (HAN) di Langkat.

Namun dalam konteks upaya menjadikan Langkat sebagai kabupaten layak anak, rasanya tidak akan mungkin bisa dicapai jika tidak ada komitmen dari instansi yang paling dekat dengan persoalan anak, yakni Dinas pendidikan Langkat. Sebab, dinas itu belum ada tindakan menekan tingginya angka kekerasan dan pencabulan terhadap anak yang terjadi di lingkungan sekolah, termasuk tingginya kasus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) yang kian hari kian meningkat. “Keberadaan Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) dan Pusat Pelayan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di Langkat yang telah memasuki masa kerja 7 bulan seakan tidak mampu menekan tingginya kasus anak di Langkat. Jika kita mau jujur, banyak aspek yang menyebabkan 2 organisasi ini terkesan tidak berperan. Yaitu diakibatkan persoalan minimnya anggaran dan masih sempitnya pemikiran petinggi di sejumlah instansi khususnya dinas pendidikan terhadap persoalan anak .

Dinas pendidikan terkesan menganggap bahwa keberadaan KPAID dan P2TP2A hanya sebagai lembaga pelengkap di daerah yang tidak perlu diperhatikan” kata Koordinator P2TP2A Langkat, Togar Lubis, Rabu, (21/7) di Stabat. Ungakapn Togar bukan tanpa alasan. Berdasarkan pengakuan Drs Anis Syafrin selaku Ketua KPAID Langkat, pihaknya telah berulang kali mencoba untuk bertemu dengan PLT Dinas Pendidikan Drs. Sulistianto dalam rangka berkoordinasi dalam upaya menekan lajunya angka kasus anak di Langkat, namun sampai hari ini tak membuahkan hasil apa-apa,” tandas Togar. (Darwis)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: