KONDISI INFRASTRUKTUR DAN TARAF KEHIDUPAN MASYARAKAT DI SUMATERA UTARA


sumber : nBasis

Sampai kapan problem kelistrikan menjadi masalah sulit? Apa yang salah dengan strategi pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan? Ada apa di balik tendensi pembonsaian sektor pertanian dan segenap sub-sektornya yang memiliki sumbangan lebih besar bahkan dibanding dengan perkebuanan raksasa nasional (BUMN)? Mengapa dana pendidikan yang meningkat belum diikuti oleh prestasi menggembirakan? Mengapa orang masih harus berobat ke luar negeri?

Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Sumatera Utara Akhir Tahun Anggaran 2009 baru-baru ini menjadi agenda Sidang paripurna di DPRD Sumatera Utara. Sebelumnya legislatif daerah itu sudah membentuk 11 Tim dan melakukan kunjungan kerja ke seluruh daerah Sumatera Utara dengan temuan-temuan yang kurang menggembirakan. Banyak sorotan yang muncul tentang taraf hidup masyarakat secara umum, di antaranya meynagkut kondisi infrastruktur yang meliputi kelistrikan, jalan dan jembatan, pertanian, pendidikan, dan kesehatan.

Buruknya pelayanan PLN sudah menjadi klasik, dan bagaimana mengukur kerugian sosial dan eknomi yang diakibatkannya adalah sebuah kesulitan tersendiri di samping kesulitan mengidentifikasi bobot persentasi andil daerah dan andil pusat dalam kompleksitas permasalahan buruknya pelayanan PLN. Juga menjadi sebuah problem besar yang kurang disadari, jika semakin lama pemerintah maupun masyarakat sudah tidak peduli lagi standar pelayanan minimum sebuah institusi penting yang menyangkut cabang-cabang vital hajat hidup masyarakat. Degradasi nilai, pola berfikir dan capaian target individu, keluarga dan masyarakat semestinya harus dihitung sebagai sebuah kerugian besar.

Dalam hal infrastruktur jalan dan jembatan memiliki keunikan permasalahan tersendiri. Saat ini kondisinya yang amat memprihatinkan dan sudah lama menjadi rahasia umum. Ada perbedaan kontras antara kondisi di 3 daerah tetangga (Aceh, Sumatera Barat dan Riau) dengan di Sumatera Utara. Pertanyaan mendasar dalam hal ini ialah apakah Sumatera Utara terlalu banyak menyelewengkan dana publik untuk pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan hingga kondisinya jauh lebih buruk dari 3 daerah tetangga, atau political will pemerintah di 3 daerah tetangga serta diplomasinya untuk mendapatkan anggaran dari APBN jauh lebih signifikan dibandingkan daerah Sumatera Utara? Padahal mestinya harus disadari bahwa pembangunan yang mengabaikan tantangan isolasi antar daerah dan antar komunitas akibat buruknya kondisi infrastruktur jalan dan jembatan secara langsung berdampak terhadap tidak saja pembangunan ekonomi lokal dan derah, tetapi juga intensitas interkoneksi yang buruk antar komunitas dan daerah. Tanpa disadari hal itu dapat sangat memperburuk kualitas perasaan sebangsa dan setanah air dan fenomena ketertinggal (cultural lag) yang amat rawan.

Menurut data kondisi kerusakan infrastruktur pertanian menurut keterangan Kadis Pengelolaan Sumber Daya Air Sumatera Utara saat ini mencapai 30 %. Juga dipastikan bahwa perbaikan terbentur oleh ketiadaan anggaran. Menurut kalkulasi pihak Kadis Pengelolaan Sumber Daya Air Sumatera Utara, kebutuhan mendesak untuk biaya perbaikan diperkirakan mencapai 228 milyar rupiah sedangkan alokasi dalam APBD berlaku hanya 98 milyar rupiah. Ini menunjukkan perilaku pembangunan Tahun Anggaran 2009 yang demikian buruk, hingga tidak memperhitungkan faktor penurunan ekonomi dan kesejahteraan daerah (masyarakat) khususnya karena kemerosotan dalam sektor pertanian. Harus dicatat bahwa pertimbangan untuk perbaikan infrastruktur pertanian tidak saja harus didasarkan pada sumbangan sektor pertanian terhadap Product Demostic Reginal Bruto (PDRB) saja, tetapi juga dari aspek degradasi taraf hidup ekonomi mayoritas masyarakat Sumatera Utara yang mengggantungkan hidupnya pada sektor ini. Suatu Negara dan suatu daerah agraris yang mengabaikan potensinya karena obsesi lain, pertumbuhan (growth) misalnya, akan berdampak pada kontinuitas kemerosotan yang tidak dapat dihindari sebab strategi pembangunannya akan mengingkari faktor-faktor keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimiliki. Akhirnya diyakini, bahwa selama ini telah terjadi kesalahan filosofis yang amat serius dalam melakukan revitalisasi pembangunan sektor pertanian.

Sebagai perbandingan, menurut data peran PDRB sektor pertanian pada tahun 2002 mencapai 30,2%. Ini menunjukkan bahwa peran sektor pertanian dalam ekonomi di Sumatera Utara masih cukup penting dan cukup besar. Bandingkan dengan data kontribusi perkebunan besar (BUMN) yang hanya separuh dari pertanian bahan makanan. Sebenarnya tanaman makanan + perkebunan rakyat + pe-ternakan +perikanan adalah ekonomi rakyat, jika dijumlahkan maka kontribu-sinya pada tahun 1983 adalah 76,2% dalam PDRB pertanian Sumatera Utara. Jika subsektor perkebunan besar dianggap hebat maka persepsi demikian adalah sa-ngat keliru sekali. Ekonomi konglomerat atau kapital, yang perannya dalam sek-tor pertanian hanya 23,8% pada tahun 1983. Kontribusi ekonomi rakyat pada ta-hun 1986 adalah 75,5% dalam sektor pertanian. Sektor pertanian dalam PDRB Sumater Utara dibagi menjadi enam subsektor, perannya masing-masing di tahun 1983-1986 adalah (a) tanaman Pangan 45,7%, 43,7%, 45,6%, 40,9% (b) perkebunan rakyat 8,9 %, 9,3 %, 10,6 %, 12,4% (c) perkebunan besar 20,8%, 21,9%, 19,9% 21,5% (d) peternakan 11,6%, 12,1%, 11,7%, 11,9% (e) perikanan 10%, 9%,4 9,9%, 10,3% dan (f) kehutanan 3%, 3,6% 2,3%, 3%.

Dalam bidang pendidikan ada disparitas (perbedaan kondisi) yang tajam dalam hal infrastruktur antara satu dan lain daerah. Sayangnya hasil UAN masih belum dapat sepenuhnya dijadikan sebagai ukuran satu-satunya tentang indikasi keterbelakangan atau kemajuan pendidikan antar daerah terutama karena masih adanya masalah-masalah tersendiri dalam proses pelaksanaan UAN sehingga akan lebih penting menjadikannya sebagai program nasional yang masih amat perlu disempurnakan ketimbang menjadikannya sebagai alat ukur tunggal capaian kurikuler pendidikan. Sumatera Utara saat ini bukan saja memerlukan perbaikan gedung-gedung, tetapi juga infrastruktur pendukung strategis seperti laboratorim, perpustakaan dan alat-alat Bantu pengajaran lainnya. Selain diperlukannya sekolah-sekolah baru, diyakini masih jauh lebih mendesak memperbaiki mutu guru yang memerlukan tidak saja peningkatan kesejahteraan, tetapi juga kwalifikasi (kompetensi) dalam menjalankan tugas profesional dalam interaksi belajar-mengajar. Sayangnya alokasi anggaran pendidikan yang secara formal dinyatakan telah memenuhi standar nasional sesuai UUD Negara RI Tahun 1945 (minimum 20 %), namun angka agregat (jumlahan) tersebut belum mencerminkan political will yang dituntut oleh ketentuan imperatif konstitusi dengan bukti bahwa fokus dan substansi pembiayaan yang dialkoasikan masih jauh dari cerminan hasrat peningkatan kualitas proses belajar-mengajar dan capaian kurikuler. Bangsa yang menyepelekan pendidikan akan tertinggal jauh di belakang dan akan menjadi “mangsa” dalam arena interaksi yang harus dihadapi sesuai dengan arus globalisasi.

Disparitas (kesenjangan) yang sama (dengan pendidikan) terjadi dalam bidang kesehatan antara satu dengan lain daerah. Harus diyakini bahwa penegasan peran dan fungsi Puskemas dan lembaga-lembaga yang terkait dengan peningkatan pemahaman dan nilai kesehatan dan kesakitan masyarakat benar-benar memegang peranan penting. Di daerah perkotaan tertentu orang-orang, di bawah pengaruh para dokter professional, sama-sama sudah memulai membicarakan gagasan program dokter keluarga, sedangkan di kebanyakan daerah tertinggal permasalahannya masih amat elementer. Dalam perilaku pembangunan sektor kesehatan terdapat fenomena yang membingungkan, terutama karena adanya pra-anggapan bahwa gedung-gedung megah akan otomatis memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat. Selain itu, pengaruh sistem kesehatan modern sebagai industri raksasa dunia sudah semakin memojokkan masyarakat dalam kedudukan sebagai penanggung biaya-biaya jaringan, industri dan permainan harga obat-obatan serta alat-alat kesehatan lainnya. Cina mengembangkan secara simultan kedua ufuk yang seolah-olah bertentangan, yakni sistem kesehatan berdasarkan filsafat industrial modern dan penggalian hasanah dan ketersediaan obat-obat tradisional yang aman resko kimiawi dan berbiaya murah. Pertarungan di antara orientasi industrial dan tradisional dalam bidang kesehatan seyogyanya dapat didamaikan dengan membuka interaksi di antara keduanya. Kualitas program sektor kesehatan yang masih belum baik pada sisi lain juga masih menunjukkan fenomena capital flight public trust yang cukup serius. Mengapa orang masih berlomba-lomba mendapatkan pelayanan kesehatan ke Negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, adalah pertanyaan yang menggiring jawaban rendahnya dan ini masalah besar.

Melihat kondisi ini sesungguhnya rakyat menjadi taruhan. Jika tidak ada perbaikan dalam pola pembangunan, agar lebih memihak kepada rakyat (pro poor dan pro job), maka perubahan taraf hidup tidak akan terjadi. Paling tidak diperlukan perbaikan serius dalam 2 hal. Pertama, profesionalitas aparatur pemerintahan sebagai penyelenggara pembangunan yang diharapkan mendapat gayung bersambut dari masyarakat luas sebagai stakeholder. Aparatur yang belum mencirikan good governance dan clean government serta dampaknya secara luas kepada perilaku masyarakat, harus menjadi perhatian. Skeptisisme bahkan sinisme pun akan sangat mudah berkembang, dan itu bermakna semakin sulitnya mendapatkan ruang partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan. Selain itu penegakan hukum yang lebih menekankan sepihak terhadap keadilan bersifat prosedural dan orientasi positivistik yang ekstrim sembari mengabaikan keadilan filosofis dan keadilan sosiologis yang demikian banyak mengganggu perasaan keadilan masyarakat, perlu diakhiri. Khususnya pelaksana pembangunan mesti siap menghadapi reward and punishment sesuai dengan pelaksanaan kinerja masing-masing. Jika tidak, social distrust (ketidak-percayaan sosial) akan lebih mudah terjadi sebagai berdampaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: