KPK Pastikan Syamsul Ditahan


sumber : Pos Metro Medan

Jumat, 6 Agustus 2010
JAKARTA-Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Haryono Umar membantah anggapan KPK lamban menangani perkara korupsi dan kalah cepat dengan kejaksaan dan kepolisian. Dikatakannya, dalam menangani perkara korupsi, KPK sangat hati-hati karena tidak mengenal istilah SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) terhadap kasus yang sudah masuk tahapan penyidikan.

“KPK nggak gampang untuk menyatakan seseorang menjadi tersangka, karena KPK tak boleh menghentikan penyidikan,” ujar Haryono Umar kepada koran ini di Jakarta, kemarin (5/8). Dijelaskannya, di tahapan penyelidikan, tim penyidik KPK harus mengumpulkan alat-alat bukti yang cukup kuat. Ketika sudah yakin, barulah tahapan naik ke penyidikan, dengan disertai penetapan tersangkanya. “Buktinya, semua kasus yang kita tangani dan dibawa ke pengadilan, semua bisa kita buktikan,” ujar Haryono.

Pernyataan Haryono menanggapi data Indonesia Corruption Watch (ICW) yang mencatat selama semester pertama tahun 2010 ini, setidaknya tercatat 176 kasus korupsi yang statusnya ditingkatkan ke penyidikan oleh aparat penegak hukum. Dari 176 kasus tersebut, jajaran kejaksaan yang paling dominan menangani kasus korupsi di berbagai daerah dengan 137 kasus, kepolisian 25 kasus dan KPK sebanyak 14 kasus.

Mengenai data ICW yang dilansir Rabu (4/8) lalu itu, Haryono mengaku belum mengeceknya, apakah benar selama semester I 2010 hanya 14 kasus korupsi yang masuk tahapan penyidikan. Apakah data ICW itu bisa menciptakan imej KPK sebagai lembaga pemberantasan korupsi yang lambat dibanding kejaksaan dan kepolsian? Haryono tidak menjawab tegas. Dia hanya mengatakan bahwa publik punya penilaian tersendiri, yang tidak bisa didikte oleh pihak lain.

Bukankah data ICW itu memperkuat citra KPK yang dianggap mulai lunak misal tidak segera menahan tersangka? Haryono membantahnya. Dalam kasus dugaan korupsi APBD Langkat dengan tersangka Syamsul Arifin misalnya, Haryono mengatakan, penahanan terhadap Syamsul tinggal menunggu waktu. “Jika tim penyidiknya merasa sudah oke, ya ditahan,” tegasnya. Dia menjelaskan, untuk menahan seorang tersangka, maka semua saksi harus sudah dimintai keterangan. Jika tim penyidik terburu-buru, maka bisa membuka peluang seorang tersangka yang sudah ditahan, pada akhirnya malah bebas. “Karena penahanan itu dibatasi waktu yakni 20 hari, dan bisa diperpanjang lagi. Jika belum kuat, bisa-bisa malah bebas. Daripada bebas, lebih baik dimatangkan dulu bukti-bukti dan saksi-saksi,” pungkasnya. (sam)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: