Yang Diproses kok Cuma Hitungan Jari


sumber : Pos Metro Medan

Senin, 7 Maret 2011
Langkat-PM-Dimata hukum semua sama, artinya tidak ada perbedaan. Siapapun yang melakukan tindakan kejahatan dengan melawan hukum harus mendapatkan hukuman sesuai dengan perbuatanya. Kenyataan di Polres Langkat, seorang penampung barang curian alias penadah bisa tak tersentuh hukum, sedangkan orang yang menjual barang curian padanya meringkuk di balik terali besi.

Hal itulah yang kini menjadi dilema di sela-sela penegakan hukum di Polres Langkat. Untuk kasus pencurian memang banyak yang diproses polisi hingga disidangkan di meja hijau. Tapi yang namanya penadah, pelaku yang diseret ke persidangan dapat dihitung jari.

Umumnya, polisi menggunakan alasan klasik: Penadahnya kabur (DPO), dan tidak cukup bukti menahan si penadah karena barang belum sampai ke tangan penadah, dan lain-lain.

Padahal, sebelumnya telah berulang kali barang curian dijualkan si pencuri ke penadah. Hal itupun disebutkan pelaku saat dilakukan proses pemeriksaan atau BAP. Tapi, tetap saja petugas mengenyampingkan pengakuan tersebut. Pasalnya, si penadah telah keburu punya hubungan baik oknum pemeriksa atau beberapa perwira dengan jabatan strategis.

Karena itulah pengakuan tersangka, terabaikan begitu saja. Contoh kasus yang dialami Elpianto (23), Syawaluddin (20) dan ibunya Ny Semi (46) warga Desa Baru, Pasar VIII Tanjung Beringin, Kecamatan Hinai, Langkat.

Ibu dan dua anaknya ini ditahan Polres Langkat karena ketahuan mencuri brondolan (biji-red) sawit dari kawasan perkebunan PT LNK Tanjung Beringin, Kecamatan Hinai, Langkat.

Lima karung brondolan diamankan dari tangan mereka saat melansir buah curian tersebut. Dengan tidak melakukan perlawanan sedikitpun, ibu dan kedua anaknya ini pasrah digiring ke Polres Langkat. Tanpa dipaksa, ketiganya cerita mulai A sampai Z yang melatar belakangi aksi melawan hukum yang dilakukan keluarga ini.

Pengakuan ketiganya, mereka mau melakukan perbuatan tersebut selain himpitan ekonomi juga karena adanya jaminan tidak ditangkap saat beraksi di lapangan oleh penampung Grb penduduk Pasar 2 Dondong, Kecamatan Wampu, Langkat. Jaminan yang diberikan Grb asalkan ketiganya menjualkan brondolan yang dicuri dari perkebunan dijual ke tempatnya.

Selain menjamin aman di lapangan ketika beraksi, Grb juga berjanji akan mengurus mereka bila nantinya tertangkap polisi atau bersentuhan dengan hukum. “Yang aku dengar Grb janji akan mengurus kalau kami ketangkap di polisi. Katanya lagi, polisi sudah diatur sama dia,“ aku Elpianto saat ditemui beberapa waktu lalu.

Masih pengakuan Elpianto, dia baru dua kali mengambil brondolan dan semuanya dijual ke Grb. Sedangkan ibunya Semi telah berulang kali mengambil dan menjual ke Grb. Sayangnya pengakuan ibu dan kedua anaknya ini belum membuka pikiran petugas untuk menangkap Grb yang telah bertahun-tahun membuka gudang penampungan sawit curian itu.

Prihatin akan kenyataan yang dihadapi ketiga orang ini membuat Kordinator Kelompok Study dan Edukasi Masyarakat Marginal (K-SEMAR) Sumut, Togar Lubis SH berencana melaporkan Polres Langkat dan petugas yang diduga ada bermain dengan penadah ini ke Kabiv Propam Mabes Polri dan pihak terkait lainnya.

Kapolres Langkat AKBP H Mardiyono SIK Msi ketika dikonfirmasi POSMETRO MEDAN melalui telepon selulernya beberapa waktu lalu mengaku baru menerima informasi ini dari wartawan. “ Kalau masalah kenapa penadahnya tidak ditangkap, nanti saya tekankan lagi sama Reskrim, kalau memang ada informasi yang menyebutkan sang penadah tadi telah mengatur oknum-oknum Polisi di Polres, akan saya suruh Paminal mengeceknya,” ujar Kapolres.(wis/jhon)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: