Polres Langkat Gagal tangani Kasus Anak


sumber : www.medankoma.com

LANGKAT-Kinerja Unit PPA(Perlindungan Perempuan dan Anak) Polres Langkat dinilai gagal dalam penanganan perkara anak. Penilaian ini disampaikan oleh Togar Lubis, SH selaku Koordinator Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Langkat.

Yuda (kanan) dan Ananda yang ompong setelah dihajar gurunya.


Menurut Togar Lubis, anak yang menjadi korban kekerasan baik phisik maupun phisikis, penganiayaan, penelantaran, pemerkosaan dan pencabulan di Kabupaten Langkat dalam kurun waktu Januari 2010 sampai dengan Maret 2011 cukup tinggi. Namun proses hukumnya rata-rata mengambang pada tingkat penyelidikan/penyidikan yang dilakukan oleh PPA Polres Langkat.

“Salah satunya adalah perkara penganiayaan terhadap anak yang dilakukan oleh Jasimah Verawati, oknum guru sekolah dasar negeri 057764 Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat. Padahal berdasarkan surat jawaban Polres Langkat dengan nomor : B/262/IX/2010 dan tidak memiliki tanggal ditandatangani oleh Kasat Reskrim Polres Langkat yang saat itu dijabat oleh AKP Wahyudi, SiK yang ditujukan kepada P2TP2A Langkat, penyidik telah menetapkan Jasimah Verawati sebagai Tersangka dan dalam waktu dekat berkas perkaranya akan segera di kirim ke Kejaksaan Negeri Stabat. Surat itu kami terima bulan September 2010, tapi sampai sekarang perkaranya mengambang dan orang tua korban tidak pernah lagi menerima Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (P2HP) dari penyidik”, papar Togar Lubis pada wartawan, Rabu (23/30) di kantor P2TP2A Langkat di Stabat.

Ditambahkan oleh Togar Lubis, perkara lain yang sampai saat ini juga mengambang di PPA Polres Langkat adalah perkara pencabulan kakak adik DS (9) dan SK (7), warga Desa Kuala Pesilam, Kecamatan Padang Tualang. Kedua bocah yang telah ditinggal mati ibunya tersebut menjadi korban kebiadaban seorang kakek berumur 80 tahun dan perkaranya telah disidik sejak tanggal 1 Pebruari 2011 lalu namun sampai saat ini perkaranya juga stagnan di Polres Langkat.

“Jika memang hasil Visum Et Repertum (VER) menyatakan bahwa hymem (selaput dara) kedua korban utuh bukan berarti perkara pencabulannya tidak dapat ditingkatkan ke tahap penuntutan. Menurut kita Penyidik Polres Langkat lebih tau akan itu,” tegas Togar Lubis.

Kepada wartawan Togar Lubis juga mengaku bingung tentang prosedur penanganan perkara anak yang dilakukan oleh Polres Langkat dan jajarannya. Alasannya, ketika Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) atau anak yang menjadi Tersangka Tindak Pidana, penyidik terkesan begitu represif melakukan penangkapan dan penahanan bahkan penganiayaan seperti yang terjadi di Polsek Gebang beberapa waktu lalu. Namun sebaliknya jika anak yang menjadi korban tindak pidana, penyidik terkesan membiarkannya bahkan menganjurkan agar keluarga korban melakukan perdamaian dengan pelaku.

“Pantauan kita, 80 persen perkara ABH dituntaskan oleh Polres Langkat, namun sebaliknya 80 persen perkara anak yang menjadi korban tindak pidana perkaranya stagnan. Ini membuktikan bahwa belum terlihat komitemen dari penyidik Polres Langkat untuk menjadikan Langkat sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) sebagaimana yang telah diterapkan oleh Pengadilan Negeri Stabat” ujar Togar . (Pra)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: