Pelaku KDRT Dilepas Polisi, Korban Trauma, Tangkap Lagi Suamiku!


sumber : Pos Metro Medan

Kamis, 14 April 2011
BRANDAN-PM-Pernikahan dini yang dijalani Ayu Permata Sari (18), berbuah petaka. Suami yang pengangguran, ternyata suka main tangan. Tak sanggup disiksa terus, membuat kasus ini bergulir di meja polisi. Tapi belakangan, ibu 1 anak itu malah trauma dan dihantui ketakutan. Kenapa?

Ya, wajar saja ia ketakutan. Ternyata tanpa ada kordinasi atau setidaknya perdamaian dengan mereka, Safwan alias Iwan (20), sang pelaku KDRT malah dilepas polisi. Itu Diketahui ketika Iwan tiba-tiba muncul di sumur sewaktu Ayu mandi.

Rasa trauma yang mendalam, membuat Ayu dan keluarga datang curhat pada kru POSMETRO di Langkat. Saat bertemu, nama Ayu yang disandangnya, sangat sesuai dengan parasnya yang manis.

Dikisahkan wanita berambut sedikit ikal, hitam panjang ini, ia terjerumus dalam kekelaman bahtera rumah tangga tersebut, lantaran terjebak keadaan. Dia yang masih polos di kala itu, terpaksa menerima nikah lantaran kegadisannya terlanjur diserobot Iwan saat usia pacaran mereka baru 5 bulan. Apalagi, waktu itu, dia telah berbadan dua.

Oleh keluarga, Ayu dan Iwan akhirnya dinikahkan lewat surat nikah Kantor Urusan Agama (KUA) Desa Paya Tampak, Kec Pangkalansusu, Langkat. Lantaran telah naik pelaminan, Ayu dengan rela mau menjalani hubungan itu.

Kata warga asal Lk III, Dsn Melati, Desa Paya Tampak, Kec Pangkalansusu ini, pernikahan itu dilangsungkan di rumahnya. Sejak hari itu sekira setahun lalu, Ayu pun resmi menjadi istri warga Lk I, Tangkahansere, Kel Pangkalanbatu, Kec Brandan Barat itu.

Suatu ketika, cewek tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang bersuamikan seorang pengangguran itu, diminta untuk menjual kompor masak merk HOCK. Alasan Iwan, dirinya tak ada uang untuk membeli rokok.

Tapi lantaran kompor masak itu pemberian ibunya, Sugiarti (52), Ayu menolak permintaan suaminya. Tanpa basa-basi lagi, putri kedua dari 4 bersaudara ini langsung menganiaya Ayu hingga babak belur.

Penganiayaan yang terjadi kali inilah yang menjadi penyulut. Sebelum-sebelumnya, sejumlah tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) telah berulang kali dialami Ayu, sehingga ia bersama keluarganya terpaksa mengadukan perkara tersebut ke polisi.

Kekerasan tanpa berperasaan seperti itu, kata Ayu, semakin sering dilakukan Iwan, bertepatan dirinya hamil 3 bulan. “Bukan cuma main tampar atau kaki. Kepalaku pun tega diantukkannya ke dinding,” kata Ayu yang muntah-muntah akibat penyiksaan itu.

“Aku melaporkan dia waktu hamil tua. Soalnya aku udah nggak tahan lagi dengan semua perlakuan kasarnya, termasuk kata-kata kotor yang sering dilemparnya ke aku,” kata Ayu seraya memperlihatkan Surat Tanda Penerima Laporan (STPL) No Pol: LP/485/XII/2010/SU/LKT/SEK-BRANDAN tertanggal 14 Desember 2010 lalu, yang diterima Polsek Pangkalanbrandan itu.

Tak berapa lama, laporan yang diterima Juper, Bripka T Rahmatsyah itu ditanggapi. Tepat pada 3 Maret 2011, atau 3 bulan setelah pengaduan, Iwan ditangkap polisi dan dijebloskan ke jeruji besi Polsek Pangkalanbrandan.

Tapi dengan alasan ada yang menjamin, Iwan bisa menghirup udara segar. Status penahanannya ditangguhkan. Itu diketahui ketika Iwan tiba-tiba muncul di sumur, saat Asu sedang mandi.

“Sebelumnya, keluarganya sempat datang ke rumah menemui saya dan kedua orangtua saya untuk melakukan perdamaian. Tapi kami tak mau berdamai. Makanya aku heran, kok dia bisa dikeluarkan dari tahanan dan menemui aku waktu mandi,” kata Ayu yang mengaku ketakutan bakal dianiaya lagi.

Meski berulangkali mengelak lantaran takut, Iwan terus saja berusaha menemuinya dengan alasan agar kembali membina rumah tangga. Penolakan Ayu itu, tak lain lantaran trauma mengenang kekejian yang dialaminya di waktu lalu.

“Jangankan untuk kembali membina rumahtangga, untuk berjumpa saja aku ketakutan bang. Aku trauma kali. Jadi tolonglah supaya Pak Polisi menangkapnya lagi. Apalagi belakangan ini dia makin sering mencari-cari aku. Aku merasa diteror dengan kedatangannya,” ujar Ayu sembari menggendong bayinya.

Bahkan kata Ayu, lantaran dirinya tak mau menemui dan mengamini permintaan itu, Iwan jadi menerornya lewat telepon seluler. Baik panggilan, termasuk juga pesan singkat (SMS).

Terpisah, Kapolsek Pangkalanbrandan AKP H Kosim yang dikonfirmasi melalui seluler mengakui soal Iwan yang pernah ditangkap sebelumnya. “Karena ada yang menjamin, makanya kita tangguhkan dia. Tapi nanti sesegera mungkin akan kita tangkap lagi kalau memang ada teror itu. Berkasnya juga akan kita kirim ke Polres Langkat,” aku AKP H Kosim.(jok/jhon)
Cetak Berita Ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: