Sengketa Lahan Berujung Tebasan Parang, Ketua BKD DPRD Langkat Jadi Terdakwa


sumber : Pos Metro Medan

Kamis, 14 April 2011
Untuk ketiga kalinya Ketua Badan Kehormatan Dewan (BKD) DPRD Langkat, Jumari S (48) menjalani persidangan di ruang utama Pengadilan Negeri (PN) Stabat, Rabu (13/4). Gelaran ini cukup menarik perhatian masyarakat Langkat.

Seperti sidang terdahulu, yang menjadi majelis hakimnya langsung Ketua Pengadilan Negeri (PN) Tajudin SH didampingi dua hakim anggota Vivia Sitanggang SH dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Febrina SH.

Sidang terhadap Politisi PDI-P ini dibuka dan terbuka untuk umum. Sehingga, banyak warga yang mengikuti gelaran saat terdakwa Jumari yang datang mengenakan stelan safari lengkap dengan pin bross DPRD-nya. Dia terlihat duduk sendiri tanpa didampingi pengacara.

Sidang kali ini adalah mendengarkan keterangan saksi yang menghadirkan dua orang, di antaranya: Kepala Dusun (kadus) dan Kepala desa (kades). Sebelum memberikan kesaksian, kedua pamong desa ini lebih dulu diangkat sumpah.

“Saudara telah diambil sumpahnya. Oleh karena itu saudara harus memberikan keterangan yang sebenar-benarnya dalam persidangan ini,” tegur majelis hakim mengingatkan keduanya.

“Saudara saksi, apakah saudara tau perkara apa yang menyebabkan terdakwa ini sampai duduk dan disidangkan?” tanya hakim.

“Saya nggak tau apa masalahnya. Saya baru tau setelah dipanggil polisi,” jelas Sadikin (48), yang mengaku telah lima tahun menjabat sebagai Kadus ini.

“Kalau begitu, apakah saudara melihat terdakwa (Jumari S) menebas korban (Rija Hendra Tarigan,” soal hakim.

“Saya gak melihatnya pak hakim. Saya dengar ada ribut-ribut dari warga hari itu. Keesokan harinya, saya mendatangi lahan yang menjadi pertikaian antara terdakwa dan korban. Waktu itu saya memang melihat ada pohon pisang yang dibacokin dan dicabut,” jelas Sadikun seraya mengaku tanah yang diklaim oleh terdakwa pernah digarap orangtuanya selama beberapa tahun.

Lanjut Sadikin, tanah itu milik pemerintah atas nama Dinas Pekerjaan Umum (PU). “Memang dulu yang mengarapnya Sayuti yang tak lain orang tua kandung terdakwa,” jelas Sadikin lagi menjabarkan sekilas masalah tanah yang menjadi pemicu pengancaman dan pengrusakan yang dilakukan Jumari S terhadap korban.

“Yang saya tanyakan bukan masalah tanahnya. Tapi, apakah saudara melihat atau tidak, saat terdakwa ini mengayunkan babatnya ke arah korban? Itu saja,” tegas hakim namun dijawab, “Tidak.”

Lanjut Sadikin lagi, pasca keributan itu, dirinya telah mengupayakan perdamaian antara terdakwa dan korban. Tapi hingga kini, belum ada kesepakatan yang tercapai.

“Salah satu poin dalam perdamaian tersebut, korban meminta agar pelaku bersedia membantunya untuk memberi makan orang kampung. Pasalnya sejak kejadian itu rasa trauma korban tak hilang-hilang,” beber Sadikin.

Sayangnya, terdakwa tidak menyanggupi hal tersebut, sehingga sampai sekarang belum ada kata damai di antara mereka.

Selanjutnya Solehin, Kades Desa Hinai, Kecamatan Hinai, Langkat dalam kesaksiaannya mengaku, dirinya dapat tau masalah ini setelah menerima laporan dari Kadus Sadikin.

Usai memberikan keterangan, hakim lalu bertanya kepada terdakwa perihal semua keterangan yang dikemukakan. “Saudara terdakwa, bagaimana dengan keterangan saksi tadi? Apa semuanya benar, atau tidak benar semua? Atau ada yang mau disangkal?” tanya majelis. “Semuanya benar pak hakim,” aku Jumari.

Usai mendengarkan keterangan saksi-saksi, hakim lalu menunda sidang dan akan dilanjutkan pada 20 April mendatang.

Sekedar mengingatkan, terseretnya wakil rakyat ini sampai ke meja hijau, berawal dari laporan pengaduan pasangan suami istri (pasutri) Rija Hendra Tarigan (46) dan Rosdalena Kaban (41) warga Desa Paya Perupuk, Kec Tanjungpura, Langkat, sekira setahun lalu.

Dalam persidangan pertama, Rosdalena mengaku, sampai saat ini dirinya masih ketakutan bila bertemu dengan Jumari S. Pasalnya, sejak Jumari melakukan percobaan pembunuhan terhadap suaminya, Rija Hendra Tarigan, dirinya selalu dihantui ancaman-ancaman terdakwa.

“Jangankan untuk datang ke rumahnya, bertemu dengan terdakwa saja saya takut. Karena saat terdakwa ingin membunuh suami saya, saya lihat langsung dia menebaskan parang ke arah suami saya,” kata Rosdalena di hadapan majelis hakim ketika itu.

Rosdalena juga mengatakan, dirinya melihat langsung saat Jumari mengejar suaminya hingga ratusan meter dengan hunusan parangnya. “Saya lihat langsung pak hakim. Dia menebaskan parang ke arah suami saya. Untungnya terhalang ranting pohon mangga. Kalau tidak, mungkin suami saya sudah mati ditebasnya,” ketusnya.(wis/jhon)

Satu Tanggapan

  1. apakah hal tersebut termasuk dlm korupsi kebijakan? oh tidak,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: