MEMBANGUN KESADARAN KRITIS “Mengkritisi Tanpa Melukai”


MEMBANGUN KESADARAN KRITIS

“Mengkritisi Tanpa Melukai”

Oleh : Togar Lubis *

A.     Pendahuluan

Kata kritik dirasa berkonotasi buruk, lihat saja, tidak sedikit orang yang merasa terhina jika mendapatkan kritik dari orang lain. Dalam ilmu Marketing, Kritik adalah hal yang diharamkan, bahkan Motivator dan Inspirator serta pendiri Carnegie Insititute terkenal Amerika Serikat Dael Carnegie mengatakan, Kritik adalah hal yang sia-sia karena menempatkan seseorang dalam posisi defensif dan biasanya membuat orang itu berusaha mempertahankan dirinya. Kritik itu berbahaya, karena melukai rasa kebanggaan seseorang, melukai perasaan pentingnya dan membangkitkan rasa benci.

Kritikan lebih banyak merusak daripada membangun. Kritik itu destruktif meskipun ada orang yang memberi istilah ‘kritik konstruktif’. Kritik selalu hanya berbicara keburukan, dan tidak ada satu orang pun yang suka jika keburukannya disebut dan dibicarakan. Kritik menyebabkan Thomas Hardy, seorang novelis terbaik yang pernah ada dalam sejarah sastra Inggris, menolak selamanya untuk menulis lagi. Kritik bahkan telah membuat Thomas Chatterton, penulis puisi terkenal Inggris, bunuh diri.

Dale Carnegie melakukan penelitian selama bertahun-tahun dalam kehidupan banyak manusia, dan hasilnya ia tulis dalam sebuah buku yang amat tebal hanya untuk menjelaskan fakta itu, bahwa kritik tak pernah mampu memperbaiki pihak yang dikritik.

Terlepas dari hal tersebut diatas, pada hakikatnya kritik adalah suatu usaha untuk membangun sesuatu menjadi lebih baik, apakah sesuatu itu yang bersifat bathiniah ataupun lahiriah.

Pengertian kritik secara umum dapat dipahami sebagai  berikut :

1.  Analisis
Unsur-unsur analisis : rasionalitas, realistis, dapat dipertanggung jawabkan.

2   Interpretasi
Unsur-unsur interpretasi : faktual, inovasi
3.  Penilaian

Jadi kritik adalah suatu usaha dalam menganalis sesuatu sehingga dapat terungkap apa yang ada di dalam sesuatu tersebut, baik sisi positif ataupun negatifnya.

  1. A.     Berfikir Kritis

Berpikir kritis merupakan upaya pendalaman kesadaran serta kecerdasan membandingkan dari beberapa masalah yang sedang dan akan terjadi sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan dan gagasan yang dapat memecahkan masalah tersebut. setiap orang memiliki pola pikir yang berbeda. Akan tetapi, apabila setiap orang mampu berpikir secara kritis, masalah yang mereka hadapi tentu akan semakin sederhana dan mudah dicari solusinya. Oleh karena itu, manusia diberikan akal dan pikiran untuk senantiasa berpikir bagaimana menjadikannya hidupnya lebih baik, dan mampu menjalani suatu masalah sepelik apapun yang diberikan kepadanya.

Tidak ada satupun manusia yang dapat menilai dirinya sendiri jika ingin mengedepankan suatu penilaian yang objektif, artinya semua orang akan merasa selalu benar, baik, atau betul jika disuruh menilai perilakunya sendiri.

Sama halnya dengan suatu budaya. Tidak ada satu orangpun yang pada hakekatnya mau mangakui jika budaya yang dimilikinya merupakan kategori budaya yang „buruk‟. Tapi apakah benar, memang ada suatu budaya yang benar-benar BURUK ? Inilah yang kemudian mengharuskan manusia untuk selalu berpikir agar bisa menumbuhkan kesadaran yang kritis.

Siapa yang tidak tahu kondisi Indonesia saat ini. Orang luar negeri pun sering memberikan stigma buruk kepada Indonesia. Kata banyak orang, Indonesia itu tidak memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan, tidak memiliki sikap yang teguh, selalu saja merasa minder alias belum berjuang apa-apa

sudah mundur/putus asa, dan terlebih lagi yang menambah segudang catatan keruwetan adalah masalah KORUPSI. Ujung-ujungnya cara untuk menghilangkan itu semua adalah dengan memupuk lagi rasa nasionalisme dan membangun kesadaran kriitis.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa membangun kesadaran kritis tidak dapat dilakukan dengan pola pengajaran ceramah, seperti yang selama ini dilakukan oleh para guru. Suatu penyelenggaraan belajar-mengajar, merupakan proses pendidikan kritis harus mencerdaskan sekaligus bersifat membebaskan pesertanya untuk menjadi pelaku (subjek) utama, bukan sasaran perlakuan (objek), dari proses tersebut. Artinya bahwa siswalah yang aktif untuk mencari pengetahuannya dan menentukan apa yang ingin dipelajari dan, guru berfungsi memfasilitasi siswa. Ciri-ciri pokok dari pembelajaran yang membangun kesadaran kritis, yaitu :

1.   Belajar dari realitas atau pengalaman : yang diajarkan bukan ajaran (teori, pendapat, kesimpulan, wejangan, dsb) tetapi realitas nyata. Keabsahan pengetahuan seseorang ditentukan oleh pembuktiannya dalam  realitas tindakan atau pengalaman langsung bukan pada retorika teoritik.

2.  Tidak menggurui : guru dan murid sama-sama belajar.

3. Dialogis : prosesnya bukan bersifat satu arah tetapi lebih pada diskusi kelompok, bermain peran dsb dan menggunakan media (peraga,grafik, audio visual, dsb) yang lebih memungkinkan terjadinya dialog kritis antara
semua orang. Panduan proses belajar harus disusun dan dilaksanakan dalam suatu proses yang dikenal sebagai “daur belajar dari pengalaman yang distrukturkan” (structural experiences learning cyrcle) agar  pendidikan kritis dapat dicapai dalam pembelajaran. Proses ini memungkinkan setiap orang untuk mencapai pemahaman dan kesadaran kritis dengan cara terlibat didalamnya secara langsung ataupun tidak.

Proses yang melibatkan setiap orang yang belajar itu adalah :

  1. Rekonstruksi: yaitu menguraikan kembali rincian (fakta, unsur-unsur, urutan kejadian, dll). Ini tahap proses mengalami, menggali pengalaman dengan cara melakukan kegiatan. Apa yang dilakukandan dialami adalah mengerjakan, mengamati, melihat dan mengatakan sesuatu. Pengalaman ini yang menjadi titik tolak proses belajar selanjutnya.
    1. Ungkapkan : setelah mengalami, maka tahap berikutnya yaitu proses mengungkapkan/menyatakan kembali apa yang sudah dialami, bagaimana tanggapan, kesan atas pengalaman tersebut.
    2. Analisis : yaitu mengkaji sebab dan kaitan permasalahan yang ada dalam realitas tersebut yaitu tatanan, aturan-aturan, sistem dari pokok pembahasan.
    3. Kesimpulan : yaitu merumuskan makna atau hakekat dari apa yang  dipelajari, sehingga terjadi pemahaman baru yang lebih utuh,berupa prinsip-prinsip, kesimpulan umum dari kajian atas pengalaman.
    4. Tindakan : tahap akhir dari daur belajar ini adalah memutuskan dan melaksanakan tindakan-tindakan baru yang lebih baik berdasarkan pemahaman atau pengertian atas realitas tersebut, sehingga ada
      kemungkinan menciptakan realitas baru yang lebih baik. Langkah ini diwujudkan dengan cara merencanakan tindakan dalam rangka
      menerapkan prinsip-prinsip yang telah disimpulkan.

    Proses pengalaman belumlah lengkap, sebelum didapatkan ajaran baru, pengalaman baru, penemuan baru yang dilaksanakan dan diuji dalam perilaku yang sesungguhnya, dalam penerapan ini juga menimbulkan pengalaman baru.Proses pendidikan kritis untuk menumbuhkan kesadaran kritis, akan tercapai jika guru menempatkan diri sebagai fasilitator yang siap untuk melayani siswa dalam belajar, bukan untuk menggurui dan berlaku sebagai satusatunya sumber ilmu dan kebenaran. Dengan lebih banyak menggunakan metode ilmiah dan eksperimen agar siswa sebanyak mungkin
    merasakan dan mengalami dalam suasana yang dialogis.

    C. Cara Kritikan Berujung Perbaikan

    Terkadang kita cukup piawai mengkritik kekurangan orang lain. Dikala seseorang minta untuk dikoreksi, serta merta kita luncurkan kata-kata. Memang tidak salah, yang harus diperhatikan apakah koreksian itu berujung perbaikan? Karena bisa jadi baik menurut kita, belum tentu baik menurut orang lain.

    Menurut KH Abdullah Gymnastiar atau lebih dikenal dengan sebutana AA Gym, ada enam teknik yang menjadikan kritikan kita berbuah perubahan, yaitu :

    Pertama, landasi kritikan dengan niat ikhlas. Niatkan bahwa koreksi yang kita sampaikan semata-mata untuk membantu orang lain menyadari kesalahannya. Beri motivasi sehingga tergerak untuk memperbaikinya. Tidak cukup di sana, beri solusi yang sekiranya bisa membantu. Jangan sampai kita habis-habisan memberi koreksi tapi tidak disertai solusi.

    Kedua, sampaikan kritikan dalam situasi dan kondisi yang tepat. Suasana hati sangat mempengaruhi. Baik itu si pengkritik maupun si penerima kritik. Lebih baik jika susana hati keduanya dalam keadaan tenang.

    Ketiga, caranya harus tepat. Itu bisa dilakukan dengan menghindari sikap emosional atau marah. Beri gambaran akan keuntungan memperbaiki diri. Tujuannya agar ia termotivasi melakukan perubahan dan meninggalkan sikap buruknya. Atau dengan metode penyampaian `pesan aku’. Libatkan diri, agar tidak terkesan menggurui. Atau bisa juga dengan teknik `teori burger’ yaitu dengan menggunakan tiga lapis informasi. Puji dulu secara proporsional, masukan koreksi tanpa menggurui, lalu akhiri dengan pujian.

    Empat, jangan mengkritik di depan umum. Ini akan mempermalukan orang yang dikritik. Jangan sampai kritikan kita malah mempermalukannya.

    Lima, siap untuk ditolak.Kita harus siap bahwa yang kita koreksi tidak menerima koreksi tersebut. Jangan kecewa. Dari pada sakit hati, lebih baik

    evaluasi diri. Mungkin cara yang kita sampaikan kurang tepat atau niatnya kurang ikhlas. Alangkah lebih baik jika kita berbaik sangka. Di depan dia menolak, bisa jadi di belakang dia merenungkannya.

    Enam, jangan merasa berjasa ketika orang berubah karena kritikan kita. Yakini Allah lah yang membolak-balikan hati seseorang.
    D. Menghadapi Kritikan : Telan atau Muntahkan

    Kata orang, setiap kritikan itu harus kita dengar, lalu kita saring mana yang baik buat kita dan mana yang hanya bersifat menghancurkan saja. Yang baik, silahkan ditelan, yang menghancurkan, silahkan dimuntahkan.

    Mendapat kritikan memang tidak mengenakkan. Apalagi, si pemberi kritikan tidak mampu menggunakan kata-kata yang halus, alias ceplas ceplos. Bisa jadi telingga kita akan memerah kepanasan. Namun, apapun bentuk kritikan itu dan dari siapapun kritikan itu datang, dari teman, atasan, bawahan, pasangan, atau siapapun, kita tidak perlu keburu emosi atau marah. Kita harus bisa berlapang dada untuk menerima kritikan tersebut.

    Kritikan itu ibarat jamu atau obat saat kita sedang sakit.  Meski rasanya pahit dan tidak enak, kritikan memberi kita banyak keuntungan. Kritikan bisa menjadi media kita untuk mengintrospeksi diri menjadi lebih baik lagi. Dari sebuah kritikan, terkadang kita bisa mendapatkan ide dan perspektif baru yang mungkin tidak pernah kita fikirkan sebelumnya. Kita juga bisa melatih emosi kita, bagaimana tidak lekas marah ketika ada kritikan keras yang menghantam kita. Dalam sebuah hubungan, kritikan akan mengajarkan kita untuk saling memberi dan menerima. Sedangkan dalam dunia kerja, kritikan bisa menjadi media dalam mengevaluasi hasil kerja kita.

    Meski begitu, kita harus pintar-pintar dalam memilah dan memilih kritikan mana yang memang berguna buat kita. Maksudnya adalah, tidak semua kritikan kita telan dan kita manfaatkan. Ada kritikan yang memang tidak hanya menyalahkan/mengevaluasi kita saja, tapi juga memberikan solusinya, nah..kritikan model seperti ini bisa kita telan.

    Namun, jika kita hanya mendapatkan kritikan yang sifatnya menyalahkan tanpa memberikan solusi alternatif, kritikan gaya seperti ini bisa kita muntahkan.

    Semakin banyak tanggungjawab yang kita emban, bisa jadi akan membuat kita harus berhadapan dengan berbagai kritikan. Selalu berfikir positif bisa menjadi salah satu cara untuk menghadapinya. Ketika kritikan datang, jangan buru-buru disanggah atau didebat, fikirkan masak-masak, pertimbangkan dengan matang dan jika memang ada yang harus dijelaskan, jelaskan dengan bahasa yang halus, yang tidak menyinggung si pengkritik kita. Sanggahan yang selalu kita berikan hanyak menjadi sebuah tanda bahwa kita bukan orang yang siap dikritik. Dan akhirnya, “telan atau muntahkan” itu menjadi hak pribadi anda pada setiap kritikan yang anda dapatkan. Salam.

      Disampaikan pada Pelatihan Peningkatan Kapasitas Masyarakat Kegiatan RBM PNPM Mandiri PerdesaanKab. Langkat TA 2011 tanggal 19 s/d 21 Desember 2011 di Gedung Pegnasos Stabat.

    • Penulis adalah Koordinator Kelompok Study dan Edukasi Masyarakat Marginal           (K-SEMAR) Sumut, Koordinator Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Langkat, Fasilitator Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Kemenpera di Langkat, Pendamping dan Monitoring pendistribusian Program Raskin di Kabupaten  Langkat dan Sekretaris Lembaga Bantuan Hukum Citra Keadilan Langkat. Saat ini penulis juga sedang menyiapkan Tesis Pendidikan Pasca Sarjana Program Ilmu Hukum Konsentrasi Hukum Pidana.

4 Tanggapan

  1. maksih infonya…🙂

  2. bagus, jalan terus.. abang doakan cepat selesai pasca sarjannya.

  3. lumaan buat refrensi soal kritis mengkritisi😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: